penutup

Sejarah Brantas adalah sejarah manusia berinteraksi dengan alam, sejak dua juta tahun lalu. Salah satu buktinya bisa terlacak melalui penemuan fosil anak-anak di tepian Sungai Brantas di daerah Perning, Mojokerto oleh Von Koenigswald yang kemudian diberi nama Homo Mojokertensis. Brantas telah setia menopang proses pemberadaban manusia –yang ternyata tidak selalu selaras dengan keberlangsungan sistem ekologis Brantas sendiri.

Politik Manusia Atas Brantas: Dari Mataram Kuno Sampai Pemerintah Kolonial
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada 804 M, Rakai Layang Dyah Tulodhong, Raja Mataram Kuno, memberi Bhagawanta Bhari sebuah daerah perdikan (sima) atas keberhasilannya membangun saluran Sungai Harinjing serta pembuatan tanggul (dawuhan) di anak Sungai Konto di wilayah Pare, Kediri. Kedua bangunan itu berfungsi untuk mengendalikan banjir yang merusak wilayah pertanian di wilayah itu.

Melalui penelusuran Prasasti Sarangan (929 M) dan Prasasti Bangkalan (934 M) kita tahu bahwa di awal Abad Ke-10, di lereng Gunung Welirang, usaha pertanian telah dikembangkan secara sistemik melalui rekayasa teknologi, pembangunan tiga bendungan. Proyek besar lain yang juga tercatat adalah pembangunan bendungan pengendali banjir di dekat Mojokerto sekarang. Prasasti Kelagyan (1037 M) menceritakan kerusakan yang disebabkan oleh banjir, menenggelamkan wilayah tersebut. Raja Airlangga, disebutkan dalam Prasasti Kelagyan, kemudian membangun bendungan, Waringin Pitu, untuk memecah aliran air ke tiga arah demi mengurangi debit air di satu titik wilayah hilir.

Sejak jaman Mataram Kuno itu, manusia telah memanfaatkan teknologi pengendalian Sungai Brantas agar sesuai dengan kebutuhannya membangun peradaban. Pemanfaatan teknologi semacam ini merupakan bukti usaha manusia untuk mengendalikan alam, agar alam tidak berbalik menjadi petaka bagi manusia.

Politik pengendalian aliran sungai pun berlanjut hingga era pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Salah satu yang memicu usaha politisasi Brantas adalah meningkatnya kebutuhan irigasi untuk perluasan pertanian tebu yang merupakan anak emas industrialisasi pada jaman kolonial itu. Di Jawa Timur, industri pabrik gula berada pada masa jayanya dengan ditandai dengan berdirinya lebih dari 60 pabrik gula di sekitar DAS Brantas.

Percepatan industrialisasi pada masa kolonial berjalan pararel dengan strategi politik etis di wilayah kekuasaan Hindia-Belanda. Edukasi, emigrasi dan irigasi didesain sedemikian rupa sebagai tenaga penggerak industrialisasi. Kebutuhan tenaga terdidik, tenaga kerja yang lebih merata di kawasan Nusantara, serta pengairan untuk perkebunan yang lebih produktif adalah penopang utama industrialisasi yang tengah dikembangkan Pemerintahan Hindia-Belanda kala itu.

Usaha pengendalian sungai oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda amat kentara dalam proyek “pelurusan” aliran Sungai Brantas di daerah Sidoarjo menuju muara di Selat Madura. Aliran sebelumnya yang berkelok-kelok menuju muara, diluruskan dengan membuat terusan besar yang sekarang dikenal dengan nama Kali Porong. Proyek pelurusan ini menyisakan puluhan kilometer bekas aliran lama yang kini sudah mengering dan dikenal masyarakat setempat dengan nama Kali Mati.

Proyek Kali Porong meninggalkan desa-desa yang dilaluinya menjadi terbelah dua. Desa Kedungcangkring dan Desa Pejarakan di Kecamatan Jabon, misalnya, terbelah menjadi dua bagian. Sebagian ada di utara Kali Porong, sebagian lagi ada di selatan Kali. Pembelahan wilayah semacam ini menunjuk bahwa proyek pelurusan aliran sungai Brantas dibangun tanpa mempertimbangkan kehidupan sosial dan kultural masyarakat yang tinggal di wilayah daerah aliran sungai. Kebutuhan utama proyek pelurusan ini adalah untuk membebaskan kawasan pertanian di daerah itu, yang telah disulap menjadi perkebunan tebu, dari genangan banjir.

Perubahan Ekologis di Muara Brantas
Pada masa paska-kolonial, penundukkan sungai demi kebutuhan manusia terus menjadi modus dalam proses pemberadaban di seputar Brantas. Rencana induk pengelolaan DAS Brantas telah dibuat Pemerintah Indonesia sejak tahun 1961. Sejak itu mulai dibangun sistem pengendalian aliran Brantas (seperti: waduk, dam dan bendungan) untuk menjaga debit air sesuai dengan kebutuhan kawasan di sekelilingnya. Pertanian, pembangkit listrik, air minum, dan industri adalah empat sektor besar yang membutuhkan pengendalian aliran Brantas.

Industrialisasi semakin bergerak secara masif. Dan semakin menjadi-jadi pada Orde Baru. Dengan jargon “Menuju Era Tinggal Landas”, Orde Baru telah memicu kelahiran industri-industri baru di seputar DAS Brantas. Di sepanjang Kali Surabaya, misalnya, sejak era 70-an telah berdiri lebih dari 150 industri yang membuang limbahnya langsung ke sungai.

Pada dini hari 29 Mei 2006, di lokasi yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Sumur Banjar Panji 1 (tempat Lapindo Brantas Inc. melakukan pemboran eksplorasi gas), lumpur panas menyebur tiba-tiba dari tengah-tengah areal persawahan. Peristiwa ini menandai dimulainya penghancuran kehidupan sosial di tiga kecamatan (Porong, Tanggulangin dan Jabon) di Kabupaten Sidoarjo.

Lumpur Lapindo tidak hanya menghancurkan kehidupan sosial, tapi juga mengancam kelangsungan ekologis di wilayah DAS Brantas. Pada 2008, Pemerintah memerintahkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) untuk membuang lumpur Lapindo ke Kali Porong. Selain mempercepat pendangkalan sungai, lumpur juga telah melahirkan pulau baru di muara Kali Porong. Kandungan logam berat yang terkandung dalam lumpur telah mengancam keanekaragaman hayati di sepanjang Kali Porong menuju muara. Laporan terakhir, industri udang di Sidoarjo mengalami penurunan drastis dari sisi kuantitas dan juga kualitas. Apapun yang terjadi, lumpur Lapindo telah mengubah struktur ekologis Kali Porong.

Banalitas Pemberadaban
Menurut catatan Tim Susur Brantas 1 – Sahabat Sungai Indonesia, Sungai Brantas tak bisa dipungkiri merupakan penopang utama peradaban Jawa Timur. Tanpa Brantas, bisa jadi, tidak akan pernah ada peradaban manusia di Jawa Timur. Akan tetapi, proses pemberadaban manusia telah berbalik menyerang kelangsungan ekologi Brantas, dari hulu sampai hilir, dari sumber-sumbernya sampai muara-muaranya. Berdasarkan temuan Tim Susur Brantas 1, proses pengrusakan ekologis Sungai Brantas telah mengalami percepatan.

Percepatan pengusakan ekologis itu merupakan buah dari banalitas pemberadaban. Politik manusia atas alam, sebagai satu strategi pemberadaban, telah mengubah struktur ekologi Brantas. Brantas adalah peluang sekaligus ancaman bagi peradaban manusia. Agar Brantas tidak berpotensi untuk mengancam peradaban, manusia (sejak Mataram Kuno sampai sekarang) telah memodifikasi Brantas sedemikian rupa demi mendukung proses pemberadaban manusia. Yang tidak disadari kemudian adalah proses modifikasi oleh manusia itu justru menjadi ancaman tersendiri bagi struktur ekologi Brantas.

Selama enam hari (13-18 April 2013) Sahabat Sungai Indonesia menyusuri Sungai Brantas untuk memotret bagian-bagian penting DAS Brantas dan perubahan kawasan yang terjadi, memunculkan sebuah pertanyaan besar: jika peran manusia dan peradabannya telah membawa pengaruh pada pola perubahan kawasan DAS Brantas hingga saat ini, akan seperti apakah Sungai Brantas di muara proses pemberadaban yang masih terus berlangsung sekarang ini?

Share →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari Bergabung
Menjadi relawan sangat penting untuk keberhasilan program perlindungan sungai kita. Anda dapat bergabung dengan ribuan Sahabat Sungai dalam mendukung perlindungan Sungai.
Kontak Kami

Kontak Kami

Ruko Puspa RK-01 Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo | +62 81 335 220 940 | admin [di] walhijatim.or.id
Kontributor
Anda bisa menjadi kontributor dalam portal ini. Untuk mendaftar bisa mengakses halaman Daftar Kontributor