Oleh: Viddy Ad Daery *)

Dalam perdebatan mengenai “Kemaritiman Majapahit” antara pihak budayawan, Irawan Joko Nugroho, seorang filolog melawan kalangan kampus yang kolot, diwakili DR Agus Aris Munandar yang seorang antropolog,dalam acara “Road to Borobudur Festival” baru-baru ini ada yang luput dibicarakan.

Irawan Joko membuat kesimpulan bahwa Majapahit adalah negara maritim, karena terekam dalam berbagai folklor dan kitab babad, yang diproduksi bukan saja oleh pujangga dari Jawa, melainkan juga pujangga-pujangga Melayu-Johor-Riau-Malaka, Pasai-Aceh,Kota Waringin-Banjar dan Tambo Jambi-Minangkabau, Bali-Lombok  dan beberapa lagi.

Sedang Agus Aris Munandar berkesimpulan bahwa Majapahit bukan negara maritim, namun negara agraris, hanya karena belum ditemukan prasasti yang membicarakan kemaritiman Majapahit, dan sangat jarang ditemukan gambar perahu di candi-candi Majapahit. Hanya ada satu gambar perahu sungai di Candi Penataran, Blitar.

Sedang satu gambar relief Perahu Samudra justru adanya di Candi Borobudur, yang di zaman Majapahit itu tidak diketahui orang karena tertimbun tanah dan dilindas tanaman pepohonan liar.
Pendapat yang agak menggelikan ini menunjukkan, bahwa dunia kampus Indonesia sampai kini masih jauh ketinggalan dan gagap tidak berani mengadopsi teori-teori baru yang berkembang amat pesat akhir-akhir ini, yang kebanyakan berbasis folklor atau tradisi lisan.

MARITIM SUNGAI
Sebetulnya, sejak saya diminta menjadi pembaca pruf naskah buku Irawan Joko mengenai “Peradaban Maritim Majapahit”, saya sudah mengingatkan, bahwa jika bukunya tidak ditambahi bab mengenai maritim sungai, maka akan bermasalah, karena maritim sungai di zaman Majapahit juga menjadi faktor penting kehidupan sehari-hari, bahkan terus berlangsung sampai tahun 1980-an-1990an, sebelum pemerintah Orde Baru getol membangun jembatan yang kemudian melemahkan fungsi sungai-sungai, terutama di Jawa, Sumatera dan Kalimantan serta Sulawesi.

Saya sebagai anak tepi sungai, yang lahir di desa “pelabuhan Laren-Parengan-Pringgoboyo” adalah saksi mata, bagaimana sehari-hari kehidupan sungai berdenyut 24 jam.

Pagi hari, ratusan perahu kecil penjala ikan secara berombongan menyusuri Bengawan Solo dan melakukan atraksi melempar jala secara teatrikal, karena didahului komando, lalu jalapun menyebar hampir berbarengan….dan kemudian pelan-pelan ditarik ke perahu, ratusan ikan sudah menggelepar di sela-sela jala…sungguh kenangan indah yang kini hilang musnah, seiring musnahnya ikan-ikan, karena kini sungai diracun polusi limbah pabrik, dan dibunuhi para pencari ikan bodoh yang menyetrum sungai sehingga membunuh ikan-ikan kecil yang tak akan sempat menjadi besar.

Sedikit siang, perahu tambangan sebagai alat penyeberangan mulai bekerja menyeberangkan orang-orang, kuda-kuda, lembu-lembu,kambing-kambing,bahkan cikar atau pedati saat itu, dan sesekali ada juga mobil jip milik Cina-kota yang menyerang naik perahu-dobel. Jip itu selanjutnya masuk ke hutan, berburu celeng atau babi-hutan.

Apabila sore hari, nampaklah melintas perahu-perahu besar yang memasang layar, yang berlayar dari desa ke desa, guna membawa barang dagangan dan juga satu dua pedagang antar desa, atau pendekar pengelana, yang di tahun 60-an masih sesekali ada sosoknya. Tokoh semacam inilah yang mengilhami novel saya, serial “Pendekar Sendang Drajat”.

Apabila datang hari pasaran sekali dalam tiap lima hari, maka pestapun dimulai. Sejak sore sebelum hari H pasaran, puluhan perahu dari berbagai desa, datang ke pelabuhan Laren dan menurunkan berbagai barang dagangan, mulai kain-kain yang ditaruh dalam kotak seng, hingga semua hasil bumi dan barang tembikar pecah-belah terbuat dari tanah yang dibakar, diturunkan ke darat.

Anak-anak kecil bergembira melihat kesibukan pelabuhan,apalagi jika malam, lalu lampu-lampu oncor dinyalakan. Desa yang selalu gulita karena belum ada listrik sampai tahun 90-anpun berpesta semalam suntuk karena terang-benderang oleh ratusan oncor.

Muda-mudi dari berbagai desa sudah berdatangan untuk membeli buah dan mungkin mencari jodoh. Dan besoknya, pesta sesungguhnyapun dimulai. Pasar berdengung karena aneka mulut orang desa bertawar-menawar, ditambah dengan teriakan tukang jamu dan sesekali ada rombongan orang-orang “Mbarang” alias mengamen kesenian tradisional.

Bandingkan dengan sikon sekarang dimana pasar sunyi-sepi, seperti ramalan “Jangka-Joyoboyo”….”mbesok ing akhir jaman, pasar sepi ilang kumandange….”

NADITIRA PRADESA
Dalam buku “Pemahaman Sejarah Indonesia” yang disunting William H.Frederick dan Soeri Soeroto ( Jakarta : LP3ES, 2005 ) , disebutkan, bahwa Prasasti Trowulan I ( atau dikenal juga sebagai Prasasti Hayam Wuruk ) adalah prasasti istimewa, karena bukan berisi piagam tanah swatantra seperti biasanya, melainkan peraturan hukum mengenai sungai Brantas dan Bengawan Solo ( Naditira Pradesa ) serta wilayah desa-desa di utara Majapahit.

Karena itu, ada yang menafsirkan, bahwa aktor intelektual pembuatan prasasti itu adalah Gajah Mada di masa tuanya, sebagai bentuk baktinya kepada tanah leluhurnya, yakni daerah Modo-Ngimbang-Patakan-Pamotan dan sekitarnya.

Beberapa nama desa tambangan/pelabuhan yang mendapat “Lencana Rajasanegara” alias inventaris plat merah Majapahit itu, sebagian besar yang berada di aliran Bengawan Solo, masih bisa saya kenali,karena saya adalah putra pribumi Bengawan Solo. Sedang tambangan-tambangan negara di Sungai Brantas hanya beberapa saja yang saya kenali. Mungkin perlu penelitian lebih mendalam, meski ini sebetulnya adalah tugas resmi pemerintah yang lebih sibuk maling uang rakyat.

Desa-desa tambangan di Bengawan Solo yang didaftar di Prasasti Hayam Wuruk, kini memang ada yang berubah namanya, tapi banyak yang masih bisa dikenali.

Antara lain, dari arah hilir :  Madanten ( kini Bedanten, Gresik ) , Sambo ( Sambo Agung, Gresik ), Pabulangan ( Bulangan-Gresik-Lamongan ), Balawi ( Blawi-Lamongan ) , Lumayu ( Lowayu-Lamongan ), Kamudi ( Kemudi-Gresik-Lamongan ), Parijik ( Prijek-Lamongan ), Parung ( Parengan-Laren-Lamongan ) , Pasiwuran ( Siwuran-Lamongan ) , Kedal ( Kendal-Lamongan ) , Widang ( Widang-Lamongan ) , Duri ( Duri-Lamongan ) , Tegalan ( Tegalsari-Lamongan ) , Bhangkal ( Bakalan-Bojonegoro ) , Pakebohan ( Kebo Mlati-Bojonegoro ) , Sumbang ( Sembungrejo-Bojonegoro ) ,  Malo ( Malo-Bojonegoro ) , Kawangen ( Ngringinrejo-Bojonegoro ) , Sudah ( Sudah-Sudu-Bojonegoro-Cepu ) , Kukutu ( Kukutu-Cepu ) , Balun ( Balun-Cepu ) , Jipang ( Jipang-Cepu ) , selanjutnya nama-nama desa pelabuhan itu tampak berada di wilayah Ngawi sampai Solo, yaitu Wulaya ( Wulayu-Solo ) .
Sedangkan untuk Sungai Brantas, dalam penelitian awal saya di lapangan dan di google maps, tampak bahwa pelabuhan-pelabuhan sungai alias tambangan yang dicatat oleh prasasti Hayam Wuruk hanya terbatas di wilayah Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya. Sedang yang berada di wilayah Kediri sampai Malang tidak dicatat.

Hal ini agak aneh. Mungkinkah karena wilayah Kediri adalah “Saingan abadi” Majapahit sejak zaman Singosari dulu ? Meski Kediri masih wilayah Majapahit, namun sudah jamak diketahui dalam sejarah, bahwa wilayah tersebut adalah “musuh dalam selimut”.
Adapun sungai Brantas sendiri mempunyai anak-anak sungai yang bercabang-cabang cukup banyak, tidak seperti Bengawan Solo yang lurus tunggal, dan kalaupun ada percabangan, hanya satu dua dan tidak terlalu terpecah-pecah.

Sudah begitu, percabangan yang berada di wilayah Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya, banyak yang diurug di zaman modern, untuk kepentingan pembangunan pabrik dan jalan tol, dan di masa kini untuk pembangunan kompleks perumahan yang tata-kotanya rata-rata ngawur. Itulah wajah dan perilaku Coinstar fees rezim bandit.

Karena itu, hampir sebagian besar nama-nama desa tambangan di Sungai Brantas banyak yang hilang atau sulit dilacak.

Maka, hanya inilah yang masih bisa dikenali–itupun dengan perkiraan yang relatif asal terka. Masih perlu penelitian lebih mendalam lagi dengan sistematika yang lebih canggih.
Antara lain : Pagedangan ( Gedangan atau bisa juga Gunung Gedangan, Sidoarjo ) , Mabuwur ( Jatiduwur-Jombang ) , Canggu ( Canggu-Mojokerto ) , Sarba ( Trosobo-Sidoarjo-Mojokerto ) , Waringin Pitu ( Wringin Pitu-Mojokerto ) , Tulangan ( Tulangan-Sidoarjo-Mojokerto ) , Panumbangan ( Penambangan-Sidoarjo ) , Jeruk ( Jeruk Legi-Sidoarjo ) , Terung ( Terung-Sidoarjo-Mojokerto ) , Kambangan Sri ( Kambang Sri-Sidoarjo-Mojokerto atau Kembang Sore-Kediri ??? ) , Gesang ( Pagesangan-Surabaya ) , Bukul ( Bungkul-Surabaya ) , Surabhaya ( Surabaya sekarang ) .
Itulah “Naditira Pradesa” alias “Tambangan Negara” alias Pelabuhan Maritim Sungai yang mendapat “Lencana Rajasanegara”, yang masih bisa saya kenali pada zaman sekarang ini, melalui blusukan swadana, karena pemerintah plus DPR zaman reformasi adalah gerombolan prajineman “banaspati” dan “jurang grawah” yang dipimpin “Aryo Sengkuni”.

*) Viddy Ad Daery adalah nama pena dari Ahmad Anuf Chafiddi , sosiolog dan budayawan.

*) KETERANGAN FOTO : Tambangan PASIWURAN ( atau Siwuran kini ). Foto by : Viddy

Editor : Jodhi Yudono
sumber : http://oase.kompas.com/read/2013/04/04/00332232/Naditira.Pradesa.Alias.Tambangan.Negara?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Share →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari Bergabung
Menjadi relawan sangat penting untuk keberhasilan program perlindungan sungai kita. Anda dapat bergabung dengan ribuan Sahabat Sungai dalam mendukung perlindungan Sungai.
Kontak Kami

Kontak Kami

Ruko Puspa RK-01 Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo | +62 81 335 220 940 | admin [di] walhijatim.or.id
Kontributor
Anda bisa menjadi kontributor dalam portal ini. Untuk mendaftar bisa mengakses halaman Daftar Kontributor