BATU – Puluhan hektare lahan pertanian sayur di Dusun Prambatan Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji terancam rusak. Soalnya, Dam Prambatan yang mengaliri lahan sayuran tersebut rusak setelah diterjang banjir bercampur lumpur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Kun Mardiana, mengatakan, air bercampur lumpur bisa sewaktu-waktu menerjang pertanian sayur lantaran Dam tersebut rusak.

“Harus segera diperbaiki agar saat hujan lebat mengguyur, air campur lumpur itu tidak masuk ke areal pertanian sayur karena tidak ada penahannya,” kata Kun, Minggu (31/3).

Sekedar diketahui, hujan deras yang mengguyur Kota Batu menyebabkan aliran sungai Brantas yang melintasi Dusun Prambatan meluap hingga area persawahan warga. Akibatnya dam di dusun setempat jebol dan tujuh rumah warga terendam air bercampur lumpur.

Di Dam Prambatan terdapat dua pintu air yang mengalir ke Desa Gunungsari, Sumberjo, Sidomulyo dan Pandanrejo serta Bumiaji. Dam itu juga berfungsi untuk mengaliri pertanian sayur milik masyarakat sekitar.

Kun Mardiana menambahkan, air sungai meluber ke sawah dan rumah warga karena banyak potongan bambu yang dibuang ke sungai. “Hari ini (kemarin-red) masyarakat sudah kerja bakti untuk membersihkannya. Kami sudah menyampaikan kondisi ini ke Dinas Pengairan dan Bina Marga agar segera ada perbaikan,” ucapnya.

Disinggung mengenai total kerugian akibat banjir tersebut, Kun mengaku belum melakukan penghitungan secara detil. “Saya belum bisa memastikan berapa kerugiannya. Tapi yang terpenting perbaikan Dam harus segera dilakukan,” paparnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kota Batu, Sugeng Pramono, mengakui ancaman kerugian besar para petani sayur akibat banjir tersebut.

“Kami belum bisa memastikan berapa petani di lima desa yang terdampak kerusakan Dam Prambatan itu, bisa sampai ratusan petani dengan luasan lahan mencapai puluhan hektare,” kata Sugeng.

Ia berjanji segera melakukan pendataan untuk menghitung total luas sawah dan jumlah petani. Sekaligus melaporkan musibah itu ke walikota Batu untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, Direktur Lembaga Kajian Kebijakan Publik (LK2P) Kota Batu, Ulul Azmi, mengatakan, banjir yang terjadi diakibatkan kebijakan pembangunan yang gencar tanpa ada batasan wilayah. “Kota Batu ini kan kawasan pegunungan, sekarang banyak kawasan lereng gunung mendapat izin adanya pembangunan,” kritik Azmi.

Ditambahkannya, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batu harus lebih selektif lagi dalam memberikan rekomendasi pendirian pembangunan.

Musibah banjir menunjukkan jika kemampuan Kota Batu untuk menyerap air hujan mulai terbatas. Jika kebijakan pembangunan tetap tak terarah, sambung Azmi, dalam kurun lima tahun ke depan kondisi di Batu bisa lebih parah lagi. zar

 

sumber: www.surabayapost.co.id

Share →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari Bergabung
Menjadi relawan sangat penting untuk keberhasilan program perlindungan sungai kita. Anda dapat bergabung dengan ribuan Sahabat Sungai dalam mendukung perlindungan Sungai.
Kontak Kami

Kontak Kami

Ruko Puspa RK-01 Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo | +62 81 335 220 940 | admin [di] walhijatim.or.id
Kontributor
Anda bisa menjadi kontributor dalam portal ini. Untuk mendaftar bisa mengakses halaman Daftar Kontributor