susurbrantas

LATAR BELAKANG

Kawasan Brantas memiliki nilai strategis dalam menopang peradaban Jawa Timur. Catatan dari beberapa literatur dan kunjungan awal ke lapangan menunjukkan bahwa Brantas di masa lalu masih terlihat menyisakan kejayaan hingga kini.Beberapa prasasti masa silam dan peninggalan masa kolonial masih bisa dijadikan bahan pembelajaran yang sangat baik dalam pengelolaan kawasan maupun adaptasi atas perubahannya. Djedoeng yang terletak di Desa Wotanmas Jedung dikaitkan dengan satu masa pemerintahan akhir Majapahit.

Lombard, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya 3 – Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, halaman 20 menuliskan prasasti-prasati yang berkaitan dengan proyek keairan jaman Majapahit. Ia juga menuliskan irigasi terdekat lain, lebih tua, berdasarkan prasasti yang ada. Yang terdekat dengan kawasan timur Brantas ini adalah yang dilakukan Raja Airlangga, tertulis dalam Prasasti Kalagyan(1037), lokasi sekarang dikenal dengan desa Kelagen – Tulangan. Disebutkan tentang dibuatnya bendungan besar setelah terjadi luapan sungai yang merusak tanaman dan lalu lintas sungai, serta memutuskan hubungan dengan Jenggala. Letaknya di suatu tempat bernama Waringin Pitu.

Di dekat kawasan yang tertulis dalam prasasti-prasati inilah bersebaran situs-situs candi yang bisa dilihat sampai sekarang: Dermo di Candinegoro-Wonoayu, Pari dan Sumur di Candipari-Porong, Wangkal di Candiwangkal-Krembung, dan Pamotan di desa Pamotan-Porong. Mereka berada tak jauh dari sumur-sumur migas milik Lapindo, baik yang masih beroperasi maupun tinggal ampasnya saja.

Di wilayah hulu, situs Watugede di Singosari maupun beberapa situs candi(Sumberawan dan Singosari) menunjukkan kelekatan kawasan dengan sisitem keairan. Lebih ke barat di wilayah Batu terdapat candi di pemandian Songgoriti, dan lebih ke bawah terdapat Badut dan kompleks purbakala Karangbesuki. Sama halnya di wilayah timur, candi Jajaghu dan Kidal menunjukkan kedekatan yang sama. Bahkan jika dicermati, terdapat pusat-pusat peradaban di masa silam, setidaknya dari peninggalan candi yang mengikuti alur sungai Brantas. Blitar memiliki puluhan candi, beberapa di Pare-Kediri hingga Nganjuk, dan lebih banyak lagi di Mojokerto hingga Sidoarjo.

Semasa kolonial, jaringan irigasi yang ada sepanjang Brantas, dioptimalkan dengan memberikan hak-hak pengelolaan tebu kepada pengusaha Eropa dan Tionghoa. Sekurangnya 60 pabrik gula di sepanjang Brantas kala akhir 1800 dan awal 1900an itu. Di Karesidenan Soerabaia saja, area 10,826ha bisa memproduksi 175,712 ton. Sementara di Kediri dengan lahan 11,8 ribu hektar memproduksi sekitar 179 ribu ton. Menduduki peringkat produksi ketiga dan kedua setelah Pekalongan yang mampu memproduksi pada kisaran 208 ribu ton dari lahan 12 ribu hektar, pada tahun 1938. Ini belum menghitung hasil perkebunan dan kehutanan.

Perburukan Brantas mulai terjadi di beberapa kawasan hulu, tengah, hingga hilir. Hulu bagian barat(Batu) kehilangan lebih dari separuh jumlah mata air. Wilayah tengah hingga hilir dihajar bahan cemaran pabrik meski di hampir seluruhnya juga menjadi bahan baku minum bagi perusahaan penyedia air minum bagi masyarakat(PDAM).

Susur Brantas merupakan bagian awal dari pendekatan pengelolaan pengetahuan yang bisa digunakan untuk menyusun langkah strategis kampanye krisis di kawasan sepanjang daerah aliran sungai Brantas maupun pengurangan resiko bencana yang disebabkan perburukan kualitas lingkungan yang ada.

Susur Brantas I setidaknya akan melihat, menggali, dan mendokumentasi berbagai kondisi yang ditemukan sepanjang Brantas. Beberapa titik kawasan yang hendak dilentingkan pada Susur Brantas I setidaknya: Sumber Brantas Kota Batu – krisis sumber mata air; Ngadas Kabupaten Malang – krisis model intensifikasi pertanian dan lahan pergunungan; Blitar – resiko letusan gunung Kelud; Pare Kabupaten Kediri – industrialisasi pertanian dan kriminalisasi petani; Jombang – hulu tengah dan industrialisasi migas; Mojokerto/Gresik/Surabaya – kualitas air dan baku mutu konsumsi; dan Sidoarjo – Lumpur Lapindo dan perusakan kawasan pesisir. Sekurangnya membutuhkan waktu tujuh hari untuk sekali susur sungai ini.

TUJUAN

  1. Memetakan lokasi-lokasi penting sepanjang aliran Sungai Brantas untuk penggalian infromasi lebih dalam
  2. Mendokumentasikan informasi dasar area-area penting sepanjang DAS Brantas
  3. Membangun sinergi dan menguatkan kapasitas sumber daya pegiat penyelamatan sungai – Sahabat Sungai Indonesia
  4. Mempublikasikan temuan-temuan di sepanjang area Brantas

HASIL YANG DIHARAPKAN

  1. Peta area-area penting sepanjang Brantas dengan keterangan-keterangan awal untuk bisa ditindaklanjuti
  2. Adanya dokumentasi visual terkait kondisi Brantas dan area-area sekitarnya
  3. Pegiat SSI meningkat kapasitas dan pemahaman terkait bio monitoring, pengamatan sosial, dan kebijakan pengelolaan kawasan
  4. Ada dukungan publik untuk penyelamatan kawasan Brantas dan sungai-sungai Indonesia dalam inisiatif-inisiatif yang digagas SSI – Walhi.

METODE

Untuk mencapai tujuan yang digagas, beberapa metode yang akan digunakan pada Susur Brantas I:

  1. Studi literatur
  2. Studi Lapangan
  3. Seminar dan Pameran Foto

KEGIATAN, WAKTU DAN TEMPAT

# Studi Literatur
Dilaksanakan pada Maret-September 2013.

# Studi Lapangan
Susur Brantas 1
Observasi terdiri wilayah sungai dan darat sekitar sungai.
Observasi Sungai:
Etape I : Batu – Malang(Karangkates)| 2 hari(13-14/4)
Etape II : Blitar – Kediri | 1 hari(15/4)
Etape III : Jombang – Mojokerto | 1 hari (16/4)
Etape IV : Mojokerto – Krian & Mojokerto – Porong (17/4)
Etape V : Krian – Surabaya & Porong – Surabaya (18/4)

Observasi Darat:
Spot Singosari Malang: mendokumentasikan kawasan sumber air candi Sumberawan dan Situs Watugede (12/4)
Spot Ngadas Malang: mendokumentasikan model kelola pertanian dan potensi sumber hayati kawasan pegunungan Tengger (12-13/4)
Spot Bumiaji Batu: mendokumentasikan kawasan mata air yang terancam aktivitas industri wisata (13/4)
Spot Blitar & Tulungagung: mendokumentasikan arca penanda hubungan dengan air di Karangkates, Penataran di Blitar, dan dam pemisah di Tulungagung(13-14/4)
Spot Pare Kediri: mendokumentasikan lahan pertanian dan problematika industri pangan, dan mendokumentasikan situs kanal peninggalan masa feodal(Surowono) dan kolonial(pabrik gula Mrican)(14/4)
Spot Jombang: mendokumentasikan potensi pangan dan rencana pertambangan(15/4)
Spot Mojokerto: mendokumentasikan situs keairan masa feodal di kompleks Trowulan dan industri-industri sepanjang Brantas(Gempolkrep) (16/4)
Spot Krian: Inisiatif komunitas di kampung dan potret industri sepanjang Brantas(17/4)
Spot Porong: Pembuangan lumpur ke sungai porong dan kehancuran sumber ekonomi lokal(17/4)
Spot Surabaya: konsumen air dan industri kelola air Surabaya (18/4)

Susur Brantas 2
Dengan metode hampir sama dengan Susur Brantas 1 dengan penyesuaian dan perbaikan yang diperlukan.

# Presentasi dan Pameran Foto
Presentasi sebagai ajang untuk menyampaikan temuan sepanjang observasi lapangan dilaksanakan pada ajang Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup pada 18 April 2013 di area Monumen Kapal Selam (Monkasel)Surabaya dan pameran foto pada 19-21 April 2013 di area Taman Bungkul Surabaya.

PENGELOLAAN

Pengelolaan Susur Brantas I dikoorsinir oleh Sahabat Sungai Indonesia yang melibatkan anggota Walhi Jawa Timur, OPA/Mapala, Relawan, dan kelompok-kelompok lainnya.

Share →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari Bergabung
Menjadi relawan sangat penting untuk keberhasilan program perlindungan sungai kita. Anda dapat bergabung dengan ribuan Sahabat Sungai dalam mendukung perlindungan Sungai.
Kontak Kami

Kontak Kami

Ruko Puspa RK-01 Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo | +62 81 335 220 940 | admin [di] walhijatim.or.id
Kontributor
Anda bisa menjadi kontributor dalam portal ini. Untuk mendaftar bisa mengakses halaman Daftar Kontributor