Oleh: Yun Damayanti – d’Traveler     Kamis, 21/02/2013 14:55:00 WIB

Berperahu di sungai Palangkaraya, Kalteng tak kalah seru dengan river cruise di Singapura atau berpesiar di Sungai Caho Phraya, Thailand. Di sungai ini, traveler bisa melihat hutan dan alam liar di tengah hutan. Mau coba?

Boleh saja, Singapura menawarkan perjalanan dengan suasana modern dengan river cruise. Ada juga makan malam romantis di atas kapal pesiar Sungai Chao Phraya. Namun, ini lebih seru ketimbang dua pelayaran tadi. Cobalah menyusuri sungai di Palangkaraya, Kalteng. Di sini Anda bisa kembali dan menyatu dengan alam.

Awan mendung bergelayut di atas Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ketika hendak memulai perjalanan menyusuri sungai di pertengahan tahun lalu. Saya memulai perjalanan dari dermaga Tugu di Jalan S Parman Palangkaraya. Perjalanan kami mulai dengan menyusuri Sungai Kahayan yang membelah kota.

Seperempat perjalanan, awal pemandangan berselang-seling antara pemukiman dengan rumah-rumah apung. Kebanyakan tampak mukanya sudah menghadap sungai, tempat usaha dan hutan. Menurut informasi yang didapat, hutan di sepanjang tepian sungai bukan lagi hutan alami, tapi hutan sekunder.Â

Bagi saya, bisa melihat pohon-pohon endemik Kalimantan, seperti pohon karet sungai dan rotan, menjadi sangat luar biasa. Hingga kami melewati desa pertama, Desa Tumbang Rungan, arus Sungai Kahayan masih tenang. Tidak jauh dari desa ada pertemuan antara Sungai Kahayan dan Sungai Rungan, sehingga arus air lebih kencang. Kapal pun diarahkan memasuki Sungai Rungan.

Setelah itu terlihat umbul-umbul kain berwarna kuning dan beberapa patok kayu di tepian sebelah kiri. Bberapa bangunan kayu tampak sudah lapuk juga terlihat di tepian sebelah kanan.

Itu adalah Keramat Pasah Patahu, tempat menaruh sesaji dan Tajahan tempat bersemedi. Ini merupakan bagian dari kepercayaan Hindu Kaharingan, akulturasi dari kepercayaan Hindu dan kepercayaan Dayak Ngaju. Ada dua sub suku Dayak yang menempati wilayah Palangkaraya dan sekitarnya, yakni Dayak Ngaju dan Dayak Ma’anyan.

Dari desa pertama, nyaris perahu tak melewati pemukiman. Hanya hutan dan penambang-penambang emas tradisional di atas sungai. Saat sedang memandangi burung kingfisher beterbangan di atas permukaan air, terdengar suara berisik dari tepian sebelah kanan.

Segerombolan monyet abu-abu ekor panjang (Macaca fuscicularis) bergelantungan dan berlompatan di antara pepohonan. Selain memakan buah-buahan mereka juga makan ikan-ikan kecil di sungai.

Sebelum melewati desa terakhir, Petuk Katimpun, awan mendung sudah berganti dengan langit biru cerah. Desa ini lebih ramai karena bisa diakses dari Jalan Tjilik Riwut. Beberapa anak terlihat baru pulang dari sekolah. Mereka pun melambaikan tangan dan langsung berpose saat melihat kamera mengarah pada mereka.

Sekitar 15 menit dari desa itu, sungai terbelah oleh sebuah pulau kecil, Pulau Hapapak. Kecepatan kapal pun dikurangi, suara motor lebih perlahan, pemandu mengingatkan saya untuk tidak melambaikan tangan atau membuat kegaduhan. Peraturan ini berlaku bagi semua yang melewati pulau karena di dalamnya ada orangutan dalam masa pra-pelepasliaran.

Tidak lama kemudian, kapal berhenti di sebuah dermaga kecil dengan pondok kayu sederhana dan dua rumah panggung dari kayu. Kami berganti dengan jukung (kano) lalu mendayung perlahan dan hati-hati. Ya, karena banyak jaring penangkap ikan milik warga sekitar.

Kapal tidak boleh masuk, agar tidak mengagetkan ikan di danau. Suara motor akan menyebabkan ikan tidak bisa bertelur dan tak ada ikan yang bisa ditangkap nantinya.

Banyak danau di antara sungai-sungai Kalimantan, seperti Danau Rawet di Sungai Rungan. Berada di tengah danau seluas 600 m2 dengan tepian hutan hijau, sengatan sinar matahari pukul 14.00 Wita pun terabaikan.

Jukung diarahkan menuju rimbunan pohon di tepi danau. Salah! Itu belum pinggir danau melainkan pepohonan yang ‘tenggelam’. Itu adalah pohon galam yang daging kayunya berwarna merah. Ketika saya ciduk, air danau ini berwarna seperti teh pekat, dengan kedalaman rata-rata 10 meter. Itulah yang membuat air danau berwarna hitam.

Jukung tidak bisa pergi lebih jauh ke dalam karena apu-apu tumbuh subur di sini. Apu-apu merupakan tanaman gulma semacam eceng gondok dan warga sekitar memanfaatkannya untuk campuran pakan ternak.

Sebelum keluar dari danau, kru kapal dan pemandu mengajak saya ke selambau. Jaring ikan yang dikaitkan ke tiang-tiang kayu dan bisa diatur kedalamannya dengan menggunakan katrol.

Kami membawa ikan lais besar yang terjerat. Kemudian, melepaskan kembali ikan-ikan kecil dan membawanya ke pondok di dermaga. Ternyata penjaga pondok telah menyiapkan hidangan berupa nasi, sayur asem bening dan ikan lais yang telah diasinkan.

Hujan gerimis turun, tepat saat kami hendak kembali ke Palangkaraya. Setelah setengah jam, gerimis pun berhenti. Indahnya, alam memberi kesempatan untuk menikmati sunset di atas sungai yang berada di tengah hutan Kalimantan, meski tak ada pelangi dan mendung. Sisa perjalanan pun kami lalui dalam suasana hujan lebat dan angin kencang.

Sudah ada dua operator tur yang menawarkan traveler untuk menyusuri sungai di Palangkaraya. Keduanya, sama-sama menawarkan pengalaman tak biasa dan tak akan mudah dilupakan.

 

sumber: http://travel.detik.com/read/2013/01/31/022647/2157086/1025/1/susur-sungai-di-palangkaraya-saingan-river-cruise-singapura

Share →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari Bergabung
Menjadi relawan sangat penting untuk keberhasilan program perlindungan sungai kita. Anda dapat bergabung dengan ribuan Sahabat Sungai dalam mendukung perlindungan Sungai.
Kontak Kami

Kontak Kami

Ruko Puspa RK-01 Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo | +62 81 335 220 940 | admin [di] walhijatim.or.id
Kontributor
Anda bisa menjadi kontributor dalam portal ini. Untuk mendaftar bisa mengakses halaman Daftar Kontributor